Ketua Dukun Kampong Sebelitung Jelaskan Perbedaan Bayak Seluman dan Buaya

BELITUNG, LENSA BELITONG — Ketua Dukun Kampong Sebelitung, Mukti Maharip, memberikan penjelasan mengenai istilah baya/seluman dan buaya yang dikenal dalam kepercayaan masyarakat Belitung.

Menurut Mukti Maharip, masyarakat setempat membedakan antara buaya sebagai binatang dengan bayak atau seluman yang dalam kepercayaan masyarakat diyakini memiliki wujud menyerupai buaya.

“Kalau buaya itu binatang. Kalau bayak, dalam kepercayaan kami, dikategorikan sebagai makhluk gaib atau siluman,” jelas Mukti.

Ia mengatakan, secara kasat mata keduanya dipercaya sulit dibedakan karena sama-sama menyerupai buaya. Namun, dalam pemahaman masyarakat dan cerita turun-temurun, terdapat istilah “usul asal” yang menjadi salah satu pembeda.

Mukti juga menyebut bahwa kepercayaan mengenai bayak atau seluman telah dikenal secara turun-temurun oleh masyarakat Belitung. Menurutnya, sejumlah cerita dari orang-orang tua terdahulu masih menjadi bagian dari pengetahuan budaya masyarakat hingga sekarang.

Terkait penemuan buaya yang sebelumnya ditemukan di kawasan Pelabuhan Baro dan kemudian terbawa arus hingga kawasan Pelabuhan Tanjungpandan, Mukti mengatakan dirinya belum dapat memastikan apakah hewan tersebut merupakan buaya biasa atau yang dalam kepercayaan masyarakat disebut baya/seluman.

“Kita belum bisa memastikan matinya karena apa. Apakah dimakan manusia atau memang ajalnya. Itu belum bisa kita pastikan,” ujarnya.

Ia menegaskan, apabila yang ditemukan merupakan buaya sebagai binatang, maka penanganannya tentu berbeda dengan pemahaman masyarakat mengenai baya/seluman. Namun, jika masyarakat meyakini yang ditemukan berkaitan dengan kepercayaan tersebut, menurut Mukti terdapat tata cara tertentu yang perlu diperhatikan.

Mukti juga mengingatkan bahwa bangkai hewan yang ditemukan tetap harus ditangani dengan baik. Ia mencontohkan kejadian sebelumnya di Sungai Curucuk, di mana bangkai buaya akhirnya dikuburkan.

“Seharusnya yang sudah mati itu ditangani dengan baik, apakah dikuburkan atau ditanam,” katanya.

Mukti menambahkan, seluruh penjelasan mengenai baya atau seluman tersebut merupakan bagian dari kepercayaan dan pengetahuan turun-temurun masyarakat, sehingga perlu ditempatkan secara bijak dan tidak disamakan dengan fakta ilmiah mengenai keberadaan buaya sebagai satwa.(Ts67)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.