Kades Tekankan Kebersamaan dalam Memimpin Desa hingga Akhir Periode

BELITUNG, LENSA BELITONG — Memimpin sebuah desa dengan jumlah penduduk yang mencapai hampir 8.000 jiwa bukanlah perkara mudah. Berbagai persoalan dan tantangan tentu mewarnai perjalanan pemerintahan desa.

Hal tersebut disampaikan Kepala Desa dalam refleksinya selama memimpin desa hingga akhir masa periode jabatannya. Menurutnya, suka dan duka dalam memimpin merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari sebuah tanggung jawab.

“Apapun alasannya, suka-duka itu ada. Namun dengan segala kekurangan dan kelemahan, kita selalu menjunjung tinggi kebersamaan. Rata-rata kendala itu bisa sama-sama kita atasi untuk mencarikan solusi yang terbaik,” ujarnya.

Ia mengatakan, dengan jumlah masyarakat yang hampir mencapai 8.000 jiwa, tentu terdapat beragam persoalan dan kepentingan. Namun, menurutnya, semuanya kembali kepada niat dan kemauan bersama untuk membangun desa.

“Sekarang pertanyaannya begini, kita di desa itu mau apa?” katanya.

Ia menegaskan, persoalan yang muncul seharusnya tidak dihindari. Sebaliknya, setiap masalah harus dihadapi dan dicari peluang serta solusi terbaiknya.

“Selagi niat itu ada, masalah itu tetap ada. Masalah menurut saya harus kita atasi dan harus kita tarik peluang. Jangan kita hindari. Karena kalau kita hindari, akan kembali lagi dan ketemu dengan masalah yang lain,” tuturnya.

Lebih jauh, ia menekankan pentingnya menjaga kebersamaan tanpa memandang latar belakang seseorang.

Menurutnya, masyarakat harus mampu hidup berdampingan dan menghargai siapa pun yang berada di lingkungan tersebut.

“Jadi prinsip kita bersama di desa itu adalah kebersamaan. Kita jangan memandang siapa mereka, dari mana mereka,” ujarnya.

Mengaku sebagai Perantau

Dalam kesempatan tersebut, sang Kades juga bercerita mengenai perjalanan pribadinya sebagai seorang perantau. Ia mengaku memiliki ikatan emosional yang kuat dengan masyarakat setempat karena selama berada di daerah tersebut dirinya mendapatkan penerimaan yang baik.

“Saya adalah orang perantau. Dari sana saya membawa apa? Saudara saya tinggal. Kalau harta ini, mau banyak harta, saya tidak merantau. Tapi bukan berarti kami tidak mensyukuri,” ungkapnya.

Ia menyebut orang tua dan saudara-saudaranya tetap berada di daerah asal, sementara dirinya memilih merantau dan menjalani kehidupan di tempat baru.

Namun, ia mengaku bersyukur karena masyarakat di tempatnya mengabdi telah menerimanya dengan baik.

“Saya diterima dengan baik, saya diangkat martabat saya dengan baik. Saya itu dibuat bagaimana,” katanya.

Atas penerimaan tersebut, ia mengaku memiliki beban moral untuk memberikan yang terbaik bagi masyarakat.

Menurutnya, kebaikan yang diterimanya selama ini tidak akan pernah dianggap sebagai utang yang dapat dibayar lunas, melainkan menjadi dorongan untuk terus berbuat bagi masyarakat.

“Secara pribadi saya itu bayar utang. Dan utang ini tidak akan lunas, apapun yang saya perbuat, sebaik apapun,” ujarnya.

Ia menegaskan, prinsip tersebut menjadi bagian dari tanggung jawab pribadinya selama mengabdi kepada masyarakat.

“Itu prinsip saya. Terlepas dari terserah orang menilai, terserah orang menerima. Tapi itulah yang kami rasakan,” pungkasnya.(Ts67)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.