Lapas Kelas IIB Tanjungpandan Jalin Kerja Sama dengan Puskesmas Badau, Dorong Pembinaan WBP Bernilai Ekonomi

BELITUNG, LENSA BELITONG — Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Tanjungpandan terus memperkuat sinergi dengan berbagai pihak dalam mendukung pembinaan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP).

Hal tersebut ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Lapas Kelas IIB Tanjungpandan dan UPT Puskesmas Badau, Senin (28/9/2026).

Kegiatan tersebut dihadiri Kepala Lapas Kelas IIB Tanjungpandan Muhammad Rolan, A.Md.I.P., S.H., M.H., Kepala UPT Puskesmas Badau dr. Gemeinial, serta perwakilan UMKM Nyulo Belitung, Aira Berjaya.

Tak hanya penandatanganan PKS, kegiatan juga dirangkai dengan pengenalan Madu AOK BE, salah satu produk hasil pembinaan dan keterampilan WBP Lapas Kelas IIB Tanjungpandan.

Kepala Lapas Kelas IIB Tanjungpandan Muhammad Rolan mengatakan, kerja sama tersebut merupakan bagian dari komitmen Lapas dalam membangun kolaborasi dengan berbagai pihak.

“Kami sangat mengapresiasi terjalinnya kerja sama dengan UPT Puskesmas Badau. Bagi kami, pembinaan WBP tidak hanya berorientasi pada keterampilan, tetapi juga bagaimana hasil pembinaan tersebut dapat dikembangkan dan memberikan manfaat,” ujar Rolan.

Ia menambahkan, produk Madu AOK BE menjadi salah satu bukti bahwa WBP mampu menghasilkan karya yang memiliki nilai manfaat sekaligus berpotensi memberikan nilai ekonomi.

“Melalui Madu AOK BE, kami ingin menunjukkan bahwa WBP mampu menghasilkan produk yang memiliki nilai dan dapat dikembangkan secara berkelanjutan,” katanya.

Sementara itu, Kepala UPT Puskesmas Badau dr. Gemeinial menyambut baik kerja sama tersebut. Menurutnya, sinergi antarlembaga diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pelaksanaan pelayanan dan pembinaan WBP, khususnya di bidang kesehatan dan pemberdayaan.

“Kami menyambut baik kerja sama ini. Sinergi antara UPT Puskesmas Badau dan Lapas Kelas IIB Tanjungpandan diharapkan dapat memberikan manfaat, khususnya dalam mendukung pelayanan dan pembinaan yang berkaitan dengan kesehatan serta pemberdayaan warga binaan,” ungkapnya.

Dukungan juga datang dari perwakilan UMKM Nyulo Belitung, Aira Berjaya. Ia mengapresiasi pengembangan produk hasil karya WBP tersebut.

“Kami melihat Madu AOK BE memiliki potensi untuk dikembangkan. Produk yang dihasilkan oleh warga binaan ini merupakan bentuk nyata dari proses pembinaan dan keterampilan yang mereka jalani,” kata Aira.

Menurutnya, kolaborasi berbagai pihak diperlukan agar produk hasil pembinaan WBP dapat semakin dikenal dan memiliki nilai tambah.

Penandatanganan PKS ini sekaligus menjadi bagian dari upaya Lapas Kelas IIB Tanjungpandan untuk memastikan program pembinaan WBP tidak berhenti sebatas pelatihan.

Melalui keterampilan dan hasil karya yang dikembangkan, WBP diharapkan memiliki bekal serta pengalaman yang dapat menjadi modal ketika nantinya kembali dan berbaur di tengah masyarakat.(Rls/Tim)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.