Lapas Tanjungpandan dan BPVP Belitung Bekali 16 Warga Binaan Keterampilan Olah
Pelatihan Pembinaan Kemandirian Berbasis Kompetensi Pengolahan Kedelai tersebut merupakan hasil kerja sama Lapas Kelas IIB Tanjungpandan dengan Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Belitung.
Kegiatan dimulai Senin (21/9/2026) dan akan berlangsung selama 10 hari, hingga 2 Oktober 2026.
Para peserta sebelumnya telah melalui proses seleksi dan verifikasi dengan mempertimbangkan aspek keamanan, minat, serta kesiapan mengikuti pelatihan.
Dalam pelaksanaannya, pelatihan menggunakan metode Tailor Made Training (TMT). Metode ini disesuaikan dengan kebutuhan peserta serta kondisi pembinaan di Lapas.
Tak hanya mendapatkan materi teori, para warga binaan juga langsung mengikuti praktik pengolahan tahu dan tempe.Materi pelatihan meliputi pengenalan bahan baku kedelai, dasar pengolahan kedelai, sanitasi dan higiene, persiapan alat dan bahan, teknik pembuatan tahu dan tempe, pengendalian kualitas, pengemasan dan penyimpanan, keselamatan dan kesehatan kerja, hingga praktik produksi.
Kepala Lapas Kelas IIB Tanjungpandan, M. Rolan, A.Md.I.P., S.H., M.H., mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari pembinaan kemandirian warga binaan.
Menurutnya, keterampilan yang diberikan diharapkan dapat menjadi bekal bagi warga binaan untuk menjalani kehidupan yang lebih produktif setelah kembali ke masyarakat.
“Saya berpesan kepada seluruh peserta untuk terus menjaga semangat dan produktivitas serta mengikuti setiap kegiatan pembinaan yang telah disediakan dengan cermat dan sungguh-sungguh. Serap ilmu dan keterampilan yang diberikan selama pelatihan, kemudian manfaatkan sebagai bekal untuk meningkatkan kemandirian dan mempersiapkan diri ketika nantinya kembali ke masyarakat,” ujar M. Rolan.Ia berharap keterampilan yang diperoleh tidak berhenti setelah pelatihan selesai, tetapi dapat terus dikembangkan menjadi kemampuan yang memiliki manfaat dan nilai ekonomi.
Sementara itu, Kepala BPVP Belitung, Mochamad Yusuf, S.H., berharap keterampilan tersebut dapat dimanfaatkan para peserta ketika kembali ke tengah masyarakat.“Harapan kami, ketika nantinya kembali ke masyarakat, ilmu dan keterampilan yang diperoleh melalui pelatihan ini dapat dimanfaatkan secara nyata, baik untuk memenuhi kebutuhan pribadi maupun membantu perekonomian keluarga,” kata Mochamad Yusuf.
Ia juga berharap para peserta nantinya dapat menjadi entrepreneur baru yang mandiri dan mampu membuka peluang usaha maupun lapangan pekerjaan.
Pelaksanaan pelatihan ini turut mendapat dukungan dari Kasi Binapigiatja Alkok Marya, S.H., M.H., sebagai bagian dari program pembinaan kemandirian warga binaan.
Salah seorang peserta pelatihan berinisial AP mengaku bersyukur mendapat kesempatan mengikuti pelatihan tersebut.
“Saya sangat bersyukur bisa mengikuti pelatihan ini. Banyak hal baru yang saya pelajari, mulai dari cara memilih bahan, proses membuat tahu dan tempe, sampai bagaimana menjaga kebersihan dan kualitas produk,” ungkap AP.
Ia berharap keterampilan tersebut dapat menjadi bekal untuk membuka usaha atau mencari pekerjaan setelah selesai menjalani masa pembinaan.
“Kami berharap pelatihan seperti ini terus ada karena sangat bermanfaat bagi kami. Kami ingin memanfaatkan kesempatan ini dengan sungguh-sungguh dan nantinya menerapkan ilmu yang sudah kami dapatkan untuk kehidupan setelah kembali ke masyarakat,” tambahnya.
Pelatihan pengolahan tahu dan tempe ini menjadi salah satu upaya Lapas Kelas IIB Tanjungpandan dalam memberikan pembinaan yang tidak hanya berorientasi pada perubahan perilaku, tetapi juga meningkatkan keterampilan dan kemandirian warga binaan.
Dengan keterampilan tersebut, 16 warga binaan diharapkan memiliki bekal yang dapat dimanfaatkan untuk bekerja, berwirausaha, maupun mengembangkan peluang ekonomi setelah kembali ke masyarakat.(Rls/Tim)
Tidak ada komentar